Tentang Ane

Showing posts with label Silat. Show all posts
Showing posts with label Silat. Show all posts

Wednesday, November 2, 2016

Perhelatan Akbar Merpati Putih; UKTNas



UKTNas dan Tradisi merupakan satu perhelatan akbar dari Perguruan Silat Merpati Putih. Kedua acara ini selalu berdampingan dan tak terpisahkan. Dari tahun ke tahun, keduanya telah berjasa dalam memfasilitasi silaturrahim antar anggota dalam lingkup nasional, maupun internasional. UKTNas, istilah singkat dari Ujian Kenaikan Tingkat Nasional, adalah ujian yang diperuntukkan bagi pelatih level daerah untuk naik ke level nasional. Tingkatan yang diujikan pun beragam. Mulai dari Kombinasi II, Khusus I, Khusus II, dan Khusus III. Karena berlingkup nasional, juga diikuti oleh banyak peserta dari tingkatan diatas, maka acara ini kerapkali menjadi ajang silaturrahim bagi para pelatih-pelatih senior yang kini telah berpencar ke berbagai daerah. Atmosfir nostalgia, serta euforia kawan lama, menjadi ciri khas suasana UKTNas di Jogja. 
 
salah 1 peserta Khusus II yang akan naik ke Khusus III. Mantap gan. sumber: FB Fariz Alfariz
 UKTNas biasanya dimulai dua hari menjelang acara Tradisi. Di hari pertama, para peserta akan menyelesaikan beberapa macam ujian, antara lain: ujian tulis, ujian gerak, ujian getaran, ujian fight, dan ujian karya tulis bagi beberapa peserta. Untuk lebih jelasnya, sesi pertama dalam UKTNas adalah ujian tulis. Peserta akan mengetes kemampuannya dalam bidang pengetahuan Merpati Putih dengan cara menjawab sejumlah soal dalam waktu kurang lebih 60 menit. Ujian berikutnya adalah Ujian Gerak dan Getaran. Kedua ujian ini dilakukan dalam waktu yang bersamaan, namun di tempat yang berbeda. Tingkat Kombinasi II akan melakukan ujian gerak terlebih dahulu, baru melaksanakan ujian getaran. Sedangkan Tingkat Khusus I & II sebaliknya. Sesi keempat adalah ujian fight. Sesi ini mewajibkan tanding bagi para peserta dengan usia 50 tahun kebawah. Pada waktu yang bersamaan, juga diadakan ujian karya tulis bagi tingkat Khusus II yang akan naik ke Khusus III. Ujian karya tulis bertujuan untuk memahami sejauh mana tingkat "Mersudi" para peserta, yang notabene akan naik ke salah satu tingkatan tertinggi di MP. Oleh karena itu, mereka biasanya diuji langsung oleh para Dewan Guru.


Kemudian pada tengah malam di penghujung hari pertama, peserta akan mengikuti ujian stamina dengan cara berlari (atau berjalan) dari Gedung Sasono Hinggil Keraton Jogjakarta, sampai Padepokan Merpati Putih di Pantai Parangkusumo, Bantul. Jarak kedua tempat ini sekitar 28 km (dari Google Maps. Hehe). Sesampainya di Padepokan, peserta akan melakukan ujian tenaga berupa pematahan benda keras. Material disini ada bermacam-macam, mulai dari besi dragon, besi rel, kikir, beton C & D, hingga batu kali. Sasaran dan teknik pun beragam pula, ada 9 sasaran masing-masing untuk tingkat Kombinasi II dan Khusus I, dan 5 sasaran untuk Khusus II. Dengan teknik mulai dari tebangan bawah, hingga tendangan samping yang dibarengi lompatan 1 meter kedepan dan 1.5 meter keatas. Setelah pematahan usai, para peserta pun diistirahatkan untuk menunggu pengumuman kelulusan. Kemudian bagi mereka yang lulus, mereka berhak mengikuti prosesi pelantikan saat Tradisi.

Kakek-kakek berjiwa muda. Sangarr tenaan. sumber: Panitia UKTNas 2010

Perhelatan Akbar Merpati Putih; Tradisi



Duo Pewaris. sumber: FB KBMP
Pasca UKTNas selesai, maka Tradisi pun dimulai. Acara ini sejatinya adalah acara Napak Tilas dari para pendiri MP, yakni Sang Guru dan Mas Pung. Karena dahulu, Mas Pung kecil sering diajak oleh ayahnya, Pak Saring Hadi Poernomo (Sang Guru), untuk berlatih di pantai, hutan, dan gumuk pasir Parangkusumo. Meskipun sering berlatih di Parangkusumo, rumah keduanya sebenarnya berlokasi di Jogjakarta. Mereka berdua berangkat ke Parangkusumo dengan cara tradisional; Pak Saring bersepeda, dan Mas Pung berlari mengikuti sang ayah dari belakang. Kegiatan keduanya dalam berlatih di Parangkusumo itulah yang berusaha direpresentasikan oleh kegiatan Tradisi. Sehingga acara ini selain menjadi ajang silaturrahim, juga merupakan ajang pembelajaran bagi semua anggota Merpati Putih. 

Acara Tradisi berdurasi sama dengan UKTNas, yakni 2 hari 1 malam. Di hari pertama, peserta dibagi menjadi 2 kloter. Kloter pertama akan diarahkan untuk “berpetualang” melalui Gunung Botak - Parangtritis - kembali ke Padepokan Parangkusumo. Sedang kloter kedua akan naik bus untuk berziarah ke makam Sang Guru, Mas Pung, dan Mas Budi, di desa Ngulakan, Wates, Kulonprogo. Melalui napak tilas dan ziarah tersebut, diharapkan peserta dapat lebih mengenal para sosok pendiri Merpati Putih. Acara pertama di Tradisi ini juga berusaha menanamkan rasa persaudaraan antar peserta. Dengan cara mengelompokkan para peserta menjadi antar tingkatan, bukan antar cabang. Hal ini membuat para peserta mau tak mau harus berkenalan dengan rekan satu kelompok mereka, terlepas dari cabang mana mereka berasal. 

Acara kemudian berlanjut di siang hari dengan agenda “Pembukaan” Tradisi, disambung dengan sesi “Penyamaan Gerak”, dan “Jamasan”. Sesi Penyamaan Gerak yang dimaksud disini ialah latihan bersama. Latihan berisi materi gerak yang seyogyanya akan dibahas dengan detail, kemudian disamakan. Sehingga kedepannya, seluruh cabang MP di lingkup Nasional, mempunyai pemahaman gerak yang sama. Kemudian menjelang petang, peserta diajak untuk mengikuti sesi “Menghantar Matahari Terbenam” di "Papan Suwung" (sebutan untuk gumuk pasir Parangkusumo). Sesi ini mengajak para peserta untuk bermeditasi sejenak. Merenungkan masa lalu masing-masing. Sembari menghapus semua sifat negatif dalam diri, seiring dengan tenggelamnya mentari. 

Agenda berikutnya berlanjut di malam hari. Dimulai dari pemutaran video sejarah MP, “Wejangan” dari para senior, “Renungan Malam” di Pantai Parangkusumo, dan “Napak Tilas” hingga subuh. Paginya, peserta akan mengikuti sesi “Menyongsong Matahari Terbit”, disusul dengan minum “Air 7 Sumber”, “Pelantikan peserta UKTNas”, dan terakhir “Penutupan”. 

Gumuk Pasir Parangkusumo. Wajib dikunjungi. sumber: FB Anan Rosyid
Jika dilihat sekilas, rangkaian acara Tradisi sangatlah padat dan memerlukan mobilitas tinggi, dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini juga lah yang menjadi godaan tersendiri bagi para peserta. Beberapa peserta mungkin lelah atau malas mengikuti beberapa acara. Panitia pun sebenarnya juga tidak mengikat para peserta untuk mengikuti seluruh rangkaian Tradisi. Namun justru disinilah letak perjuangannya. Bagi mereka yang lelah, tidak mengikuti 1-2 acara sebenarnya tidak apa. Hitung-hitung untuk beristirahat. Namun sebenarnya, lebih baik bagi para peserta untuk mengikuti seluruh rangkaian acara. Apalagi untuk para anggota baru. Karena Tradisi sebenarnya adalah ajang pembelajaran untuk lebih mengenal MP. Bagaimana sejarahnya, siapa pendirinya, darimana asal-usulnya, siapa saja yang kini terlibat didalamnya, berapa cabang MP di Indonesia, dll, semuanya bisa terjawab dalam acara Tradisi. Selain itu, pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Maka untuk bisa sayang, yaa harus kenalan dulu doong. Hehe.

Grup MP Solo berkesempatan bertemu pendiri MP Solo, Mas Yuwono (Tengah, pakai nomor dada). sumber: FB Anan Rosyid

Thursday, October 20, 2016

Making Relationship at MP UNS



I always loved Pencak Silat. No doubt about that. The feeling that you can grow your body and personality for the better. And the persistency needed to learn, both the techniques and mentalities. That is what makes this sport worth the effort. And all those, are also part of a message that I’ve been trying to pass to all of my disciples. Considering my position now as a coach. 

MP UNS
It has been 4 months now, since me coaching MP at Solo. And I like it here. MP Solo, especially UNS, has good environment, familiar culture, and of course, some feeling of nostalgia. UNS was my first kolat. I learned my very first kuda-kuda stance here. Hehehe. Because of that, I feel the need to to share my silat knowledge back to MP UNS. To say thank you for what they gave me few years ago. 


Now I coach for 3-4 times a week at UNS. And 2 times a week for training myself at MP Manahan (eventhough sometimes I coach here too). I’m quite happy with my activities here. Hehe. It makes me feel useful for others who wants to practice Merpati Putih. Especially at UNS. I know that they have potentials. They just need motivation and guide to help them achieve a success. Both in the individual person and the MP organization as a whole. But wait.. hmmm. Maybe this "success" can be started by defining the relationship between coaches and the disciples. 

Roles and Relationship
The roles as a coach (at least for me) means that we have to guide and give good examples to our disciples. That includes these roles; we become coach when they’re training. We become guide when they’re confused. We become problem-solver when they have problems that can’t be solved by themselves. This will make them have a role model to look up to.

On the contrary, a disciple also have their own roles. Which are, always listen to their coach, eager to push themselves further, do every instructions with maximum effort (this will create best performance result). Then be patience when it comes to training progress and finally spread enthusiasm to others (especially their junior). And finally, both the coach and the disciples need to respect each other, have an open-mind, and always maintain good communications. 

 I sincerely hope that all these suggestions can be done. And can take us to accomplish something greater.
MP Solo at Tradisi 2010


My first "Pembajaan" at 2008. I'll never forget this