Tentang Ane

Monday, February 9, 2015

4 Tipe Manusia Menurut Imam Al-Ghazali

        Belakangan ini ane sering terpikir mengenai pencarian “ilmu”. Yep, pikiran ini mungkin dilatarbelakangi oleh nilai ane yang masih jeblok, plus skripsi yang masih tertinggal dari teman-teman kebanyakan. Pasalnya, teman se-angkatan ane rata-rata udah pada habis SKS dan sekarang sedang nyicil skripsi. Sedang ane sendiri masih mengejar ketertinggalan SKS. Fyuuh. Emang sih, dalam 2 semester terakhir, udah ada perkembangan. Namun rasanya masih jauh dari cukup. Jadinya, ane pun sekarang masih berusaha belajar untuk bisa “belajar dengan baik”. Nah loh.   


       Dan ngomong-ngomong tentang belajar, masih terngiang di kepala ane, salah satu perkataan Bapak dulu.  Beliau membicarakan salah satu kata mutiara dalam bahasa Arab dari Imam Al-Ghazali; Bahwa dalam aspek “ilmu”, Imam Al-Ghazali menggolongkan manusia menjadi 4 tipe:


1. Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri
Tipe pertama yakni seseorang yang tahu (berilmu), dan dia sadar bahwa dirinya tahu (berilmu).  Seorang seperti ini kemudian haruslah diikuti. Hal ini dikarenakan ia memang berilmu dan berkemungkinan besar menularkan ilmunya pada orang lain, termasuk kita. Contoh dari orang tipe ini adalah guru, pelatih, ustadz, dan temen pinter yang mau ngajarin ilmunya.

2. Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri
Tipe kedua yakni seseorang yang tahu (berilmu), namun dia tidak sadar bahwa dirinya tahu (berilmu). Seorang seperti ini kemudian haruslah dibangunkan. Pasalnya, orang seperti ini sebenarnya mempunyai potensi untuk dapat bermanfaat dalam skala yang lebih luas. Namun ia diibaratkan masih “tertidur”; masih menyimpan ilmunya untuk dirinya sendiri. Bisa jadi karena dilandasi ketidaktahuan bahwa dirinya lebih berilmu daripada orang-orang di sekelilingnya. Contoh dari orang tipe ini adalah seorang yang hidupnya biasa, pergaulan sewajarnya, lurus dan damai-damai aja. Namun sebenarnya dibalik “kedamaian” hidup orang tersebut, katakanlah ia mampu hidup damai karena sebenarnya berhasil melewati berbagai halangan dan kesulitan berkat ilmunya. Bayangkan saja apabila orang seperti ini kemudian menyebarkan ilmu yang bermanfaat tersebut ke (minimal) orang-orang di sekelilingnya. Pasti akan jauh lebih bermanfaat. 

3. Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri
Tipe ketiga yakni seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu), dan dia sadar bahwa dirinya tidak mengetahui (tidak berilmu). Seorang seperti ini kemudian haruslah dibimbing dan diajari. Nah, menurut ane disini, bahwa tipe mayoritas mahasiswa adalah tipe 2 dan 3. Bila manusia tipe 2 menurut Imam Al-Ghazali adalah orang yang sebenarnya pinter tapi ga sadar. Tipe 3 kebalikannya. Orang di tipe ini merasa membutuhkan banyak bimbingan dan ilmu dari orang lain, karena sadar bahwa dirinya masih mempunyai banyak kekurangan. Semangat ya.

4. Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri
Dan yang paling kasihan adalah tipe terakhir. Ia adalah seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu), namun dirinya tak sadar bahwa dirinya tak mengetahui (tak berilmu). Seorang seperti ini (dikatakan) haruslah ditinggalkan. Yang dimaksud disini ialah tipe orang yang merasa selalu tahu terhadap segala sesuatu. Bila diajak diskusi, menggurui. Bila diberi nasihat, malah mengumpat. Tipe orang keras dan tak berilmu yang tak mau mengalah. Tinggalkan saja. Karena ia tak akan memberi manfaat. Kecualii.. bila kita  adalah tipe 1 yang sabar pula. Besar kemungkinan orang seperti ini masih dapat tertolong. Dan bila bisa menolong orang tipe ini, kamu keren.

Dalam kaitannya sehari-hari, menurut ane keempat tipe ini masih bisa dikategorikan penggunaannya dalam 2 level; Pertama, sebagai patokan dalam menilai overall seseorang/diri sendiri secara menyeluruh. Kedua, sebagai patokan dalam menilai bab/aspek ilmu tertentu dalam seseorang/diri sendiri.

Sebagai contoh.
Level 1: Si Fulan menilai dirinya sendiri sebagai manusia tipe 3 (Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri). Ia merasa demikian karena ia masih merasa bodoh secara keseluruhan, dan masih harus banyak belajar kepada siapa saja yang dianggapnya bisa memberikan ilmu.  

 Level 2: Si Fulan menilai dirinya sendiri pernah melalui bermacam kategori diatas. Hal ini dikarenakan bahwa ia memang pintar (dan percaya bahwa dia cukup tahu) di salah satu aspek seperti olahraga. Di bidang olahraga, ia tak segan-segan untuk memberikan tips-tips bagi temannya yang membutuhkan. Namun disisi lain, ia merasa amat bodoh dalam hal akademik, khususnya matematika. Ia sadar bahwa ia tak tahu, dan karena itu ia mencari ilmu dari salah satu teman yang pandai dalam aspek matematika.

Keduanya sama-sama bisa digunakan untuk menilai diri sendiri/seseorang. Hal ini berangkat dari asumsi yang paling umum; bahwa tak ada manusia yang sempurna. Dibalik kesempurnaan orang tipe 1, pasti masih kekurangan, hal yang dia pun tak pandai. Dan dibalik ketidaksempurnaan orang tipe 4, pasti ia pun masih mempunyai kelebihan. Layaknya quote dari biksu kesayangan kita semua, Tong San Cong, “kosong adalah isi. Isi adalah kosong”. Hahaha, mulai makin random. Stop ajalah.

Satu hal yang pasti, bahwa menilai orang/diri sendiri itu mudah. Namun yang menjadi tantangan adalah apa tindakan kita selanjutnya pada mereka/diri kita sendiri. Apakah akan kita ikuti ? bangunkan ? bimbing ? atau tinggalkan ? monggo.  

Charlie Hebdo; Benturan Fatal antara Kritisi Jurnalistik dan Sentimen Agama

*ngirim tulisan bulan lalu, tapi ga dimuat. Kasih sini aja dah. hehe.

Rabu pagi (7/1), suasana kota Paris yang tenang berubah bergejolak. Terjadi penyerangan di kantor Charlie Hebdo, sebuah kantor koran mingguan yang identik dengan karya berupa karikatur sindiran mengenai banyak hal, termasuk agama Islam. Penyerangan dilakukan oleh dua pria bertopeng. Mereka masuk kedalam kantor Charlie Hebdo dan kemudian melepaskan tembakan mematikan ke 11 orang yang kebanyakan adalah jurnalis. Mereka tewas ditempat. Pasca penembakan tersebut, kedua pelaku kemudian melarikan diri dengan membunuh seorang korban lagi, yakni seorang petugas polisi. Dengan membajak dua mobil, kedua pelaku berhasil melarikan diri ke Prancis bagian utara

Balas-Membalas
Kejadian ini bukan terjadi sekonyong-konyong tanpa alasan. Charlie Hebdo, sebagai lembaga jurnalistik yang menjadi korban, pasalnya telah berkali-kali melemparkan karikatur satirical (sindiran) mereka terhadap Nabi umat Muslim, Muhammad SAW. Dilansir dari Washingtonpost.com, Charlie Hebdo telah 3 kali merilis karikatur Muhammad SAW dalam rentang waktu 2006-2012. Hal ini kontan menimbulkan pro-kontra keras dari berbagai kalangan. Pada 2006, Charlie Hebdo menerbitkan sebuah karikatur Muhammad SAW yang bertujuan untuk menyindir para ekstremis. Meski pro-kontra muncul, namun hal itu tak terlalu berarti. Hingga kemudian pada 2011, karikatur kedua muncul, menjadikan Muhammad SAW sebagai cover. Sehari kemudian, kantor koran tersebut tiba-tiba dibom oleh pelaku tak dikenal. Hal-hal semacam ini tak pelak menimbulkan reaksi yang lebih keras dari Charlie Hebdo. Mereka menjadi lebih berani untuk mengkritik Islam dengan menjadikan Muhammad SAW sebagai wujud representasi untuk disindir. Terbukti dengan rilisnya karikatur Muhammad SAW selanjutnya pada 2012.
Respon Charlie Hebdo ini agaknya wajar, mengingat mereka adalah kumpulan jurnalis yang telah mengasosiasikan dirinya dengan label produk satirical-nya. Tugas jurnalistik bagi mereka adalah mengkritisi. Dimana kritik itu sendiri merupakan sebuah representasi dari idealisme yang pada akhirnya diwujudkan dalam sebuah karya. Dalam hal ini, mereka menggunakan sketsa karikatur sederhana yang dibumbui dengan sindiran sebagai wujud representasi kritik mereka terhadap keadaan masyarakat seisinya.
Disisi lain, masyarakat muslim pada umumnya, bahkan pada mereka yang bukan garis keras. Sewajarnya menanggapi sesuatu semacam karikatur Muhammad SAW tersebut sebagai suatu pukulan keras terhadap keyakinan mereka. Pasalnya, muslim telah diajarkan untuk tidak mewujudkan bentuk Nabi dalam bentuk apapun, termasuk gambar dan patung. Kritik dari Charlie Hebdo yang telah menyentuh sisi fundamental dari islam inilah yang kiranya menyulut ketegangan yang berakhir dengan penembakan pada Rabu lalu.
Konflik semacam ini; yang melibatkan antara benturan rasa kritisi jurnalistik, dengan rasa sentimen agama yang kuat, nantinya akan berpotensi untuk menyulut konflik yang lebih besar. Menurut Bartos & Wehr, sebuah konflik dapat tereskalasi karena disebabkan oleh faktor reciprocation (timbal-balik). Dalam artian, konflik tereskalasi bukan tanpa sebab. Namun karena serentetan kejadian balas-membalas dari kedua pihak yang disepanjang jalan hanya menjadi “bumbu” akan naiknya tensi konflik. Sebagai contoh, Charlie Hebdo membuat karikatur Muhammad pertama pada 2006, dengan tujuan untuk mengkritik para ekstremis Islam. Namun hal semacam ini menimbulkan pro-kontra, termasuk dari kubu para ekstremis. Balas-membalas terjadi, berulang kali. Hingga akhirnya berujung pada insiden berdarah Rabu lalu.

Dampak Penembakan

Melalui insiden ini, dapat kita simpulkan beberapa hal. Pertama, apapun alasannya, membunuh adalah sesuatu yang terlarang bagi kemanusiaan. Termasuk para pembunuh kartunis Charlie Hebdo yang mungkin saja beranggapan bahwa mereka adalah penoda agama Islam. Bagaimanapun, para karikaturis Charlie Hebdo beserta para pembunuhnya adalah manusia juga, yang bernaung dibumi yang sama. Kedua, sebuah konflik atau pro-kontra yang tak terselesaikan, dan hanya dibuntuti oleh serentetan pembalasan hanya akan membuat keadaan semakin buruk. Sebuah permasalahan harusnya dapat diselesaikan selagi isu tersebut masih belum berujung konflik. Sebagai contoh, Charlie Hebdo sebenarnya dapat mewujudkan kritisi yang lebih sopan dengan tanpa mengikutkan wujud karikatur Muhammad SAW dalam karya-karyanya. Disisi lain, para muslim, apalagi bagi ekstremis, seharusnya dapat menyelesaikan masalah melalui meja hijau maupun lembaga lainnya yang lebih solutif dan berkredibilitas. Semua ini demi terwujudnya kedamaian masyarakat. Dan ketiga, bayangkan apabila hal ini terjadi berlarut-larut, maka yang terkena imbas terbesarnya adalah kaum muslim di Eropa. Jumlah kaum muslim di Eropa akhir-akhir ini pasalnya kian meningkat, yang sayangnya diiringi juga dengan kritik dan tindakan diskriminasi dari banyak pihak yang tak dapat menerima hal ini. Dengan adanya insiden penembakan Charlie Hebdo ini, maka besar kemungkinan bahwa kaum muslim di Eropa akan menjadi kian terjepit diskriminasi dan rasisme di mata masyarakat.

Friday, January 30, 2015

Belajar Nyetir

        Yep, hari ini ane resmi mempelajari skill yang super penting, yakni “nyetir mobil”. Skill ini kenapa ane bilang super penting ? ya jelas, yang namanya orang ga mungkin bakal selamanya naik motor/sepeda onthel. Pasti bakal bawa yang namanya “mobil” (atau “libom” dalam bahasa negara Malang). Mobil penting karena ia adalah moda transportasi yang bisa ngangkut banyak hal. Mulai dari bapak ibu, anak istri, bos, temen2, barang2, makanan, hewan, pohon, motor, dan buanyak lagi. Jadi dengan punya skill nyetir mobil, kita dapat dikatakan udah bisa level up menuju ke wujud manusia yang lebih bermanfaat. Gitu bro. Tapi ya belajar dulu sih. Hehe.

            Omong2 soal belajar. Guru kursus nyetir ane kali ini rasanya familiar. Meskipun kami baru pertama kali ketemu. Orangnya pria paruh baya, tegas, bahkan terkesan ketus dalam berbicara, dan beliau tak banyak bicara hal yang tidak perlu. Cukup berikan instruksi dan memperhatikan jalanan, sambil sesekali kakinya bersiap diatas pedal rem cadangan yang ada di bawah dashboard kiri depan. Kesan ketus dan pendiam ini mengingatkan ane pada guru motor pertama ane. Yakni pakde X. Dibandingkan pakde X, mungkin pak guru mobil ini belum ada apa-apanya. Pasalnya, omongan pakde X ini lebih tegas dan lebih ketus beberapa kali lipat.

            Ane inget pada waktu kelas 6 SD dulu. Di siang hari saat lebaran, ane tiba2 dipanggil pakde X, “He, kamu ! Sini”. Ane pun datang, dan beliau langsung menginstruksikan ane membonceng di jok belakang vespa. Vespa kemudian berjalan keluar halaman, masuk ke jalan kecil didepan rumah si mbah. Pakde kemudian turun, dan hanya dengan lambaian tangan, ia menginstruksikan ane untuk pindah ke jok depan. Disini ane mulai mencerna bahwa ane bakalan nyoba vespa. Salah satu varian motor roda dua yang paling susah untuk dikendarai.

            Pakde pun kemudian menginstruksikan ane untuk melakukan ini dan itu; nge-gas kenceng supaya mesin ga mati, masukin gigi dengan cara muter persneling yang ada di tangan kiri, dst. Singkat cerita, ane pun kesulitan. (ya kali, anak kelas 6 SD disuruh belajar vespa tiba2). Namun pakde kemudian memberikan satu keajaiban yang membuat ane riang bukan kepalang. Karena dalam 2 hari kedepan, ane udah bisa mengendarai vespa keliling kampung, bahkan mboncengin kakak sepupu ane !!

            Apa rahasia pakde ? tak lain dan tak bukan adalah omongannya yang ketus. Sepanjang latihan, beliau mengolok dan mem-pressure ane. Namun sepanjang waktu itu pula, dia pula yang terus menerus mengoreksi kesalahan dan memberikan petunjuk yang benar bagi ane. Dih, bener2 militan lah pokoknya. Alhasil, karena berhasil bertahan dari tekanan dan deg-degan selama 2 hari tersebut, pakde berhasil membuat keajaiban berupa keberhasilannya melatih seorang anak kelas 6 SD untuk bisa lancar mengendarai vespa.

            Apakah belajar nyetir kali ini juga demikian ? entahlah. Hahaha.
           
*bukan berarti buat ndidik anak biar cepet belajar, selalu pake kekerasan lho. Soalnya kan tipe tiap orang berbeda2. Ada banyak cara yang bisa dieksplor. Yah, dalam kasus vespa ini, kebetulan aja kondisinya dan metodenya lagi cocok. Hehe.

Friday, January 23, 2015

You've Got a Friend

When you're down and troubled
And you need a helping hand
And nothing, nothing is going right
Close your eyes and think of me
And soon I will be there
To brighten up even your darkest night

       You just call out my name
       And you know wherever I am
       I'll come running to see you again
       Winter, spring, summer or fall
       All you have to do is call
       And I'll be there, yeah, yeah, yeah.
       You've got a friend

If the sky above you
Should turn dark and full of clouds
And that old north wind should begin to blow
Keep your head together
And call my name out loud, yeah
Soon I'll be knocking upon your door

       You just call out my name
       And you know wherever I am
       I'll come running, oh yes I will
       To see you again
       Winter, spring, summer or fall
       All you have to do is call
       And I'll be there, yeah, yeah, yeah.

Ain't it good to know that you've got a friend
When people can be so cold
They'll hurt you, and desert you
And take your soul if you let them
Oh yeah, but don't you let them

      You just call out my name
      And you know wherever I am
      I'll come running to see you again
      Winter, spring, summer or fall
      All you have to do is call
      And I'll be there, yes I will.

You've got a friend
You just call out my name
And you know wherever I am
I'll come running to see you again (oh baby don't you know)
Winter, spring, summer or fall
All you have to do is call
Lord, I'll be there yes I will.
You've got a friend

      Oh, you've got a friend.
      Ain't it good to know you've got a friend.
      Ain't it good to know you've got a friend.
      You've got a friend.

:)

salah satu lagu favorit nih. pertama denger dari playlist temen pas SMP kelas 3. trus pas 2010 jadi OST Toy Story 3 pula. Ketika denger lagu ini, dikombinasikan ama storyline persahabatan Andy dan Woody di Toy Story 3... wah speechless. 

Dari liriknya aja, udah menggambarkan segalanya. Bahwa beruntunglah mereka yang memiliki sahabat, karena dapat saling bersandar satu sama lain di segala kondisi. Baik dalam senang atau susah. Semua cerita dapat dibagi. Semua derita dapat diatasi. Bersama hadapi masa depan. And if anything goes wrong...

               You just call out my name 
               And you know wherever I am 
               I'll come running to see you again :) 

Halo Semin !

          Selama akhir pekan kemarin, tepatnya 17-18 Januari 2014, kebetulan ane diajak oleh Paguyuban Karya Salemba Empat (KSE) UGM untuk berkegiatan di SLB Dharma Putera Semin. KSE sendiri merupakan nama yayasan pemberi beasiswa yang cakupannya meliputi 16 universitas di seluruh Indonesia. Dan ceritanya, di tiap universitas tersebut didirikan sebuah paguyuban yang berfungsi untuk menaungi para penerima beasiswa di universitas yang bersangkutan; salah satunya adalah Paguyuban KSE UGM. Paguyuban ini (katanya) bukan organisasi lho. Namun ia masih tetap mempunyai fungsi untuk mengorganisir anggotanya dalam mengadakan berbagai event yang bermanfaat.

            Yep, lanjut. Jadi selama akhir pekan kemarin, ane diajak oleh para pengurus untuk menjalankan kegiatan kecil2an, yang berupa sosialisasi penanaman jahe merah & pisang di sekitar SLB. Kegiatan ini sendiri dikategorikan dalam “pengabdian masyarakat”, dan bertujuan untuk memberikan bantuan lebih dan bersifat sustainable bagi SLB Dharma Putera Semin.

sarapan bareng
            Selama dua hari berkegiatan, ane dan teman2 KSE yang lain dikenalkan kepada sang “tuan rumah”, yang tak lain adalah para murid SLB yang bisa dibilang “unik bin ajaib”. Dan khusus bagi ane yang belum pernah masuk dalam lingkungan SLB ini, pemandangan akan anak2 unik ini merupakan hal yang benar2 baru. Beberapa dari mereka mungkin telah berumur cukup tua, beberapa lagi remaja, dan lainnya anak-anak. Namun semuanya nampak sama; unik bin ajaib. Mereka mungkin sekilas terlihat berbeda bila dibandingkan dengan mayoritas masyarakat, namun sebenarnya pikiran dan perasaan mereka sama seperti kita. Mereka juga merasa senang, sedih, marah, ramah, sangat ramah, sholat, dan bahkaann pacaraann. Yap, terdengar agak lucu ya, namun disini beberapa anak memang jatuh cinta dengan lainnya, hingga kemudian menjalin hubungan asmara (meski ane masih belum tahu juga bagaimana mereka merepresentasikan wujud “cinta” mereka, hehehe). Dalam dua hari, ane dapat menyimpulkan bahwa mereka memang tak jauh berbeda dari kita. Bahkan bisa jadi, mereka melebihi kita dalam beberapa aspek tertentu. Karena memang manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

            Para murid SLB yang ramah ini juga membantu kami dalam menyelesaikan “misi” selama dua hari ini. Diantaranya adalah misi untuk menanam 50 pohon pisang di kebun sekitar SLB. Kami pikir sebelumnya bahwa ini adalah pekerjaan yang berat, namun ternyata kebalikannya. Dengan bekerjasama; antara kami, para murid SLB, dan beberapa perangkat sekolah, akhirnya “misi” ini dapat diselesaikan dengan perkiraan durasi kurang dari dua jam. Joooss !!


pencitraan gan, haha
            Kegiatan singkat inipun berakhir memuaskan sekaligus memberikan banyak pengalaman, seperti pengetahuan serba-serbi tentang jahe & pisang, plus cangkul mencangkulnya, hahaha. Juga mendapatkan kenalan baru yang amat beragam; mulai dari mereka yang diberikan nikmat oleh Allaah SWT berupa kehidupan dalam “normal mode”, yakni teman2 KSE. Hingga mereka yang diberikan ujian lebih oleh Allaah SWT berupa kehidupan dalam “hard mode”, yakni para anak2 SLB. Eniwei, nampaknya kita akan berjumpa lagi gaess di kesempatan selanjutnya. See ya !

Tuesday, December 23, 2014

Selamat Merayakan Natal yak

Ane tadinya tak pernah berfikir mengenai perihal boleh atau tidaknya seorang muslim mengucapkan ucapan “selamat natal” kepada seorang kristiani. Karena selama yang masih ane ketahui kemarin2, mengucapkan natal kepada umat kristiani adalah haram hukumnya bagi mereka yang muslim. Namun belum lama ini, Prof. Quraish Shihab, seorang ulama dan ahli tafsir terkemuka Indonesia, menyatakan bahwa boleh hukumnya untuk mengucapkan “selamat natal” kepada umat kristiani. Argumen beliau dilandaskan pada fakta bahwa kita selaku umat muslim yang tinggal di lingkungan heterogen dan multi religiusitas haruslah toleran terhadap mereka yang keyakinannya berbeda dari muslim. Hal ini bertujuan untuk membina hubungan baik antar umat beragama dalam masyarakat. Beliau juga menambahkan bahwa selama umat muslim hanya sebatas mengucapkan, dan tak mengikuti perayaan natal secara lebih jauh, hal ini diperbolehkan. Dengan kata lain, Quraish Shihab mengemukakan argument tersebut berdasarkan oleh landasan sosial. Bahwa kita; muslim, kristen, katolik, hindu, buddha, hidup bertetangga dan harus saling toleransi. Dan wujud “toleransi” tersebut direpresentasikan dalam bentuk ucapan selamat hari raya kepada mereka yang berbeda keyakinan.

            Sekilas ane percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Quraish Shihab. Karena sebab sejatinya ucapan tersebut dilarang oleh sebagian pihak adalah muncul anggapan bahwa dengan mengucapkan "selamat natal", muslim berarti percaya dan mengakui bahwa Yesus benar lahir pada 25 Desember, dan dia merupakan anak Tuhan. Padahal dua premis tersebut kan tak relevan, antara (1) saya ngucapin natal. dan (2) saya mengakui bahwa Yesus dst. Ini sama saja dengan premis "saya mengucapkan selamat Idul Fitri kepada muslim dan saya mengakui bahwa Allaah adalah Tuhan saya". Dua hal ini merupakan hal yang berbeda. Plus, ane meyakini bahwa eksistensi umat muslim di awal abad 21 kini semakin terhimpit karena satu faktor yang amat fatal; TERORISME. Yap, bermula dari kejadian 9/11, kemudian di Indonesia sendiri terjadi kasus bom bali 2002, bom di kedubes Australia, dst. Hingga isu ISIS/Daulah Islamiyah yang kini makin mempopulerkan keterkaitan antara terorisme & islam. Karena eksistensi islam yang makin terhimpit inilah, ane rasa islam musti makin populis & “ramah” dimata masyarakat untuk membangun kembali citra islam. Keren kan misal ngliat para mas-mas berkoko dan bersarung gitu tersenyum dan memberi ucapan natal ke tetangganya yang sedang ngrayain natal. Ini yang kemudian ane fikirkan.

            Pada satu sore ane bertanya kepada senior ane, Mas Jo, mengenai pro-kontra pengucapan selamat natal ini. Dia mengatakan bahwa bila terjadi satu perdebatan, ambil jumhur ulama (yang lebih banyak diakui ulama). Plus, MUI ternyata juga telah memfatwakan mengenai hal yang sama pada th 1981. Isinya menjelaskan bahwa umat islam memang harus bergaul dan bekerjasama dalam kehidupan dunia. Namun tidak dalam urusan akhirat. Dalam hal ini, ane sepakat aja. Karena dia ane pandang lebih tahu. Kemudian ane browsing, dan mendapati fakta bahwa mayoritas jumhur ulama mengatakan bahwa mengucapkan “selamat” saja diperbolehkan. Yap. Oke. Kemudian ane cari fatwa MUI 1981 yang mengatakan hal diatas. Namun tak menyebutkan satupun bahwa mengucapkan “selamat” itu haram. Yang haram hanya mengikuti perayaannya (ikut upacara ibadah beserta rangkaiannya –kalo ini, JELAS). Berarti mengucapkan “selamat natal” hukumnya diperbolehkan atas dasar dua hal tersebut. Mungkin ada dasar-dasar lain, cuman ane belum tau.


            Mungkin hal ini terbilang sepele yak. Kenapa perihal mengucapkan “selamat” kepada orang lain saja dibesar-besarkan. Dan bahkan diharamkan atas dasar “mengucapkan berarti mengakui bahwa agama itu benar”. Kurang nyambung aja sih. Bahkan nampaknya, mengapa islam ane rasa belum terlalu berkembang dan bahkan kian terhimpit kini karena sikap sebagian penganutnya yang masih konservatif, tertutup, isolasionis. Takut terhadap hal-hal yang berbeda dengan ajaran lama. Misal ada orang islam yang inklusif, ramah, toleran terhadap siapapun… dibilang liberal. Suka ama film (?)… dibilang liberal. Lebih memilih pemimpin non-muslim tapi kompeten, dibanding yang muslim tapi tak kompeten… dibilang liberal. aahh.. padahal dunia sudah berubah. Kita kini dihimpit oleh isu-isu seperti terorisme yang bahkan jauh lebih besar ketimbang dengan hal-hal apa yang kita pertentangkan saat ini. 

jangan sampe deh islam maju dengan cara kayak gini. hardcore

*sebenernya ini hal sepele sih. ngucapin ama ga ngucapin, dampaknya juga ga terlalu gede. kalo pengen ya ngucapin, kalo ragu, ya nggak usah, kalo nentang, yaudah. wkwk.   

Tuesday, October 14, 2014

Jogja aman ? Iya po ?

      Wah, akhir2 ini jogja jadi rawan men. Rawan penjambretan, pembacokan, tawuran geng, entahlah. Ngeri juga. Kabarnya sih, kejahatan2 tersebut terjadi pada malam hari, sekitar pukul 21.00-dini hari. Pelakunya juga (kabarnya lagi) menggunakan senjata tajam macam golok dan pedang. Mereka beraksi dalam jumlah kecil, yakni 2 orang di 1 motor. Yang belakang yang bawa senjata katanya.

            Ane pertama kali denger berita ginian dari temen deket ane, inisialnya T. Jadi ceritanya si T ini baru abis nganterin pacarnya balik ke rumah. Nah pas si T mau balik ke kosan, dia nglewatin bunderan teknik, daaann terjadilah kejadian itu. Si T tiba-tiba dicegat oleh 2 orang lelaki. Ia berhenti. Bukan karena ia menanggapi mereka. Namun karena motor si T dipepet ke kiri jalan oleh motor 2 lelaki tsb, kemudian dicegat (kayak pas ditilang polisi cuy, bisa bayangin kan ?). Pria yang duduk didepan (sebut aja pria 1) tanya ama si T, “Rumah sakit Panti Rapih dimana ya mas ?”. Si T masih ndomblong, mikir. Namun kemudian, ga ada angin ga ada ujan, si pria pembonceng pria 1 (sebut aja pria 2) langsung ngluarin golok sambil bilang, “Serahin barang-barang !!”. Nah disini ane sempet ketawa, karena temen ane tersebut dengan polosnya bercerita bahwa saat itu dia malah ndomblong, kaget tapi setengah ga percaya kalo dia sedang dijambret.. bukan, bukan panik. Si T saat itu malah jauh dari kata panik. Dalam benaknya ia berkata, “ni beneran gue dijambret… ?”. Sesaat kemudian tangannya bergerak maju, refleks memegang golok yang sedang ditodongkan padanya.

            Lanjut. Setelah golok dipegang T, pria 2 (kayaknya) panik juga. Dia berusaha menarik golok yang ujung (tajemnya) dipegang ama temen ane itu. Adegan tarik menarik terjadi. Kata si T ke ane, baru kali itu dia ngrasain panik bukan main. Karena merasa ia harus kabur, T kemudian melempar golok kedepan, bersamaan dengan tangan pria 2 yang masih keukeuh mempertahankan goloknya. Si T yang sesaat bebas dari todongan golok pun kemudian bergegas memutar stang motor, membelokkan roda depan, dan tancap gas sekuat mungkin untuk berbalik arah; melarikan diri. Namun pria 2 yang agaknya masih belum ikhlas mangsanya kabur, kemudian mengayunkan goloknya ke arah punggung si T. Namun beruntung sabetan golok tersebut tertahan oleh backpack temen ane. Sedetik kemudian motor si T pun melenggang kencang, hilang di kegelapan malam.
ah, jangan2 ini semua ulah si Genji dkk 

            Ndomblong juga ane ketika denger cerita tersebut. Cerita yang bagi ane, menjadi awal dari serentetan cerita-cerita berikutnya (yang hanya ane dapet dari whatsapp) di jogja. Utamanya sekitaran UGM. Apalagi pas kemarin ane dapet kiriman foto-foto pelaku yang tertangkap oleh warga. Ada banyak ternyata. Dan katanya sih geng anak-anak SMA. Entah apa motif mereka.

            Jujur aja ada rasa khawatir sekarang kalo pas bepergian malem. Apalagi kalo yang bepergian temen-temen cewek, yang sendirian. Bagi mereka yang pernah/sedang mempelajari beladiri pun ane kepikiran juga. Masalahnya bukan terdapat pada latihan yang kita jalani selama ini. Latihan kita bisa dikatakan benar, karena sesuai dengan kurikulum perguruan masing-masing. Namun di jalan, yang dibutuhkan adalah nyali dan ketepatan serangan (Teorinya. Ane sendiri belum pernah praktek soalnya, dan semoga ga bakal praktek). Kalo cuman nyali doang, tapi serangan ga kuat dan tepat, cari mati. Kalo cuman modal hasil latihan, serangan kuat dan tepat, tapi nyalinya cemen juga sama aja. Kalo udah punya dua-duanya, tapi musuhnya 7 orang yang bawa golok, ya sama aja. Makanya, kalo ga yakin bisa menang, lebih baik lari, atau yang lebih baik lagi, lari terus minta tolong warga sekitar. Hha.


             Nah kalo gitu, mungkin kemudian muncul pertanyaan, ”Terus ngapain belajar beladiri ?”. Jawabnya ada 2. Pertama, selain dari aspek beladiri, banyak hal yang didapatkan; silaturrahim, ilmu baru, kesehatan, percaya diri, dan mental juara. Jika ditilik dari aspek beladiri, yang kita dapatkan adalah (sedikit ilmu) untuk mempertahankan diri, trik-trik melawan musuh yang lebih kuat, penguatan otot-otot di tubuh (karena tanpa otot yang kuat, susah buat bisa mukul/nendang kenceng, bahkan mungkin susah buat cuman melarikan diri), dan tentunya memperbesar kemungkinan kita untuk bisa menjaga diri sendiri dan orang-orang disekitar kita disaat-saat yang dibutuhkan J
eaaaa !!