Tentang Ane

Friday, January 31, 2014

Review Gandhi (1982)

     Siang ini masih sama seperti siang biasanya di hari liburan ane. Dihias dengan langit mendung dan ramainya hujan. Khas cuaca di Hari Awal Tahun kalender Cina. Dengan keadaan cuaca seperti ini ane kemudian memutuskan untuk bersantai sembari menonton film. Yah yang ane sadari, isi laptop ane sekarang udah semakin mirip ama drive di warnet yang isinya folder puluhan film, baik jadul maupun baru. Dan satu film yang akan ane tonton ini, pada akhirnya memang film yang menarik, inspiratif, dan patut untuk ditonton oleh kita semua. Film ini berjudul “Gandhi” (1982). 

     Berkisah tentang biografi Mohandas Karamchad Gandhi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mahatma Gandhi. Sesosok tokoh yang namanya telah melegenda dalam sejarah umat manusia modern. Gandhi merupakan seorang pria India yang telah tercatat sebagai pejuang idealis yang mempertahankan prinsip non-violence, atau non-kekerasan. Melalui karya Columbia Pictures ini, kita diajak mengarungi langsung perjalanan hidup seorang Gandhi dalam mempraktikkan implementasi prinsip non-kekerasan-nya dalam kehidupan nyata yang penuh konflik. 

        Film ini dimulai dengan adegan dimana Gandhi akan melakukan ibadah sore bersama para pengikutnya. Gandhi yang telah lemah, dibopong oleh dua orang pengikutnya, berjalan perlahan menuju keramaian. Saat itu, terdapat seorang diantara ratusan yang mendekat, mencium kaki Gandhi. Pria tua itupun membungkuk pada pengikutnya tersebut, hanya untuk mendapati bahwa si pengikut tersebut ternyata mengambil pistol, untuk kemudian menembaki Gandhi tepat di dada. Menyebabkan Gandhi terjatuh dan meninggal pada saat itu juga. Sejurus kemudian, kamera menyorot kepada ramainya kerumunan orang yang datang pada saat pemakaman Gandhi. Menurut website IMDB, tak kurang dari 400.000 orang direkrut sebagai figuran saat itu. Jumlah yang amat fantastis menurut ane. Tak pelak, adegan tersebut dikatakan sangat representative dengan kondisi nyata pemakaman Gandhi di tahun 1948. 

Poster Film


Flashback  ke tahun 1890an akhir. Dimana kisah “Gandhi” resmi dimulai. 

      Dikisahkan pada tahun tersebut, Gandhi muda pergi ke Praetoria, Afrika Selatan sebagai pengacara pendamping para pedagang muslim asal India. Gandhi yang kemudian diusir dari gerbong 1st class hanya karena dia seorang dengan kulit berwarna, marah. Di Afrika Selatanlah perjuangannya dimulai. Ia menuntut kesetaraan antara India dan kulit putih. Seiring waktu, dibarengi dengan keluar masuknya ia dalam penjara, Gandhi muda berhasil mengangkat derajat kaumnya di Afrika Selatan.

      Setelah misinya dirasa berhasil, ia pun akhirnya kembali ke tanah asalnya, India. Ia dianggap sebagai pahlawan disana, dielu-elukan, dipuji sebagai pejuang HAM. Karena itu, Gandhi kemudian disambut oleh para pejabat India, bahkan diundang dalam Kongres Nasional India. Namun dalam hingar bingar gelar “pahlawan” tersebut, Gandhi merasa masih ada yang kurang. Didapatinya di pinggir jalan bahwa masih banyak warga miskin yang menderita. Karena itulah kemudian Gandhi melakukan perjalanan ke seantero India. Ia menyebutnya discovering India.

Gandhi sewaktu disidang di Pengadilan

      Berangkat dari fakta kemiskinan dan perbedaan itulah, Gandhi kemudian memperjuangkan India. Tujuan akhirnya; mengusir kaum imperialis Inggris dari tanah India. Berbagai rintangan pun ia hadapi, termasuk “hobi”nya keluar masuk penjara. Namun dalam perjalanannya, ia tetap menjalankan prinsip non-kekerasannya nya. Pun demikian dengan para pengikutnya. Strategi kunci Gandhi disini terwujud dalam 4 tindakan: Provokasi, Massa, Non-kooperatif, serta Non-kekerasan. 

      Setelah perjuangan panjangnya, akhirnya India pun merdeka. Namun disini muncul masalah baru terkait pembagian wilayah bagi Hindu dan Muslim. Keadaan pun menjadi kacau setelah dua kubu ini berkonflik. Gandhi yang sedih kemudian memutuskan untuk berpuasa hingga mati bila tak ada perdamaian. Para Hindu dan Muslim yang awalnya keras, akhirnya luluh oleh sosok pria tua kurus tersebut. Kedamaian pun akhirnya terwujud di India.

      Dalam film ini, sosok Gandhi digambarkan dengan amat kuat oleh Ben Kingsley, sang aktor. Melalui “Gandhi” pula, kita dapat melihat banyak hal dari berbagai sisi dalam sebuah konflik. Tentang bagaimana strategi Gandhi, peran Jawaharlal Nehru, Muslim vs Hindu, British Empire, dll. 

Sebagai tambahan, ada beberapa quote dari adegan yang bagus menurut ane;
  • An eye for an eye only ends up making the whole worlds blind
  • Where there's injustice, I always believed in fighting. The question is, do you fight to change things or to punish? 
  • Whenever I despair, I remember that the way of truth and love has always won. There may be tyrants and murderers, and for a time, they may seem invincible, but in the end, they always fail.


Terus percakapan ini. Dimana saat konflik Hindu vs Muslim mulai reda, datang seorang Hindu yang marah.
Hindu Man: I’m going to hell !
Gandhi: God decides who’s going to hell
Hindu Man: I killed a child (muslim), smashed his head to the wall
Gandhi: Why ?
Hindu Man: Because muslims killed my child, about this high (mulai tersedu, sambil menatap kuat seorang pemimpin muslim yang berdiri disamping Gandhi)
Gandhi: I know a way out of hell
Hindu Man: ????
Gandhi: Find a child, whose mother and father has been killed. About this high (menunjukkan tinggi badan anak si Hindu). And raise him as your own child… only be sure that he is a muslim. And that you raise him as one
Hindu Man: (terdiam, shock. Tak lama, ia pun menangis terduduk di kaki Gandhi)

Adegan yang amat kuat menurut ane. Worth to watch lah pokoke film iki.

one man. one principle. changing the world

Wednesday, January 29, 2014

Pak Husein

        Siang itu masih sama layaknya hari kerja biasa. Banyak pria dan wanita berpakaian putih panjang berseliweran di ramainya lorong RS. Sardjito. Sembari berpapasan dengan para dokter tersebut, Fulan menengadah ke atas, melihat cerahnya biru putih langit. "Hari yang cerah untuk donor darah" ujarnya dalam hati.

        Fulan pun berjalan perlahan, masuk ke Unit-Entah-Apa-Namanya yang mengurusi transfusi dan hal lain yang berhubungan dengan kebutuhan darah. Sembari mengantri, ia mengobrol dengan seorang pria paruh baya. Dalam momen ini ternyata Fulan mendapati bahwa lawan bicaranya ternyata mempunyai sesuatu yang menarik. Beliau mempunyai semangat yang luar biasa dalam menolong orang, meski hanya berbekal darah yang disumbangkannya tiap 3 bulan sekali. 

        Pak Husein, demikian orang memanggilnya, merupakan tukang becak yang mempunyai pengalaman pahit terkait kesehatan. Istrinya selama 8 tahun merupakan pasien di RS Sardjito. Beliau mengidap lupus, sebuah penyakit yang disebabkan oleh terlalu banyaknya antibodi di tubuh seseorang, hingga membuat antibodi tersebut bukannya melindungi, namun malah menggerogoti tubuh orang tersebut. Dengan sabar pak Husein menunggu, membiayai, dan mendoakan istrinya selama 8 tahun. Selama itu pula tukang becak tersebut sadar betapa berharganya kesehatan, hingga kemudian mulai beliau mulai merutinkan kebiasaan mudanya, yakni donor darah. 

MARI BERBAGI :)

        Dalam obrolan itu pula Pak Husein mengatakan kepada Fulan bahwa hal yang menyebabkannya makin rutin mendonorkan darahnya adalah suatu Hadits/ayat Al-Qur’an (sori lupa, hehe), yang berkata bahwa makin banyak seseorang bersodaqoh, maka urusannya di dunia maupun di akhirat akan dipermudah. Namun sayang, pada akhirnya sang istri tidak dapat diselamatkan. Beliau meninggal dengan damai pada Oktober 2012 lalu. Meski demikian, Pak Husein tetap menerima semuanya dengan lapang dada. Ia tetap berpegang teguh pada prinsipnya dalam bersodaqoh dan menolong orang lain. 

        Mendengar kisah tersebut, Fulan tertusuk diam. Selama ini ia bukanlah termasuk orang yang sering bersodaqoh. Namun menurut pak Husein pula, bersodaqoh tak hanya melulu dengan uang. Melainkan dapat dengan apa saja yang kita punya, termasuk darah. 

Keren banget sampeyan pak !


Tuesday, January 7, 2014

Selamat Tinggal 2013

Selamat tinggal 2013

      Banyak dinamika yang terjadi, pun banyak pula pelajaran yang bisa diambil. Sejenak menyadarkan pikiran ini bahwa Allaah Sang Pencipta memang memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

      Kadang terlihat pahit, tak enak, sesak, tapi selayaknya obat-obatan. Justru rasa seperti itulah yang ternyata kita butuhkan. Yang ternyata dibalik segala kepahitan tersebut, keadaan kita malah menjadi lebih baik.. jauh lebih baik mungkin saja.

Mengutip sepenggal tulisan Cak Nun
Kalau Allah membebaskanku dan semua manusia untuk mengambil keputusan sendiri mengenai tanah dan langit, mengenai apa yang baik dan yang buruk, mengenai yang mana selamat dan yang mana celaka – maka ya Allah, dalam beberapa hari kami ummat manusia akan musnah dari muka bumi.

      Namun, tak jarang pula Allaah memberi kita kebahagiaan yang berlimpah ruah. Mulai dari hal kecil, hingga hal luar biasa.

Ia memberi kita jalan untuk menikmati hidup, meski hanya dengan menatap bintang-bintang di cakrawala, atau menghirup hawa tanah yang basah oleh air hujan. 

Ia memberi kita rasa bahagia, meski hanya dengan melihat orang lain tersenyum dan tertawa lepas.

Ia memberi kita inspirasi dan motivasi yang bisa jadi diberikan-Nya melalui perantara seseorang dan kejadian

Selamat tinggal 2013. Alhamdulillaahi robbal ‘alamin.

Selamat datang 2014. Harus jadi lebih baik lagi :)

waton njupuk soko internet. halo 2014 lah pokokeee

Tuesday, October 1, 2013

Aliran Semangat di Pinggir Kali

Langit terlihat amat cerah sore ini. Angin pun sepoi-sepoi berhembus, perlahan, menyapa kulit dengan menyenangkan. Cuaca sore semacam ini yang biasanya dimanfaatkan oleh Fulan untuk ber-jogging ria. Mengeluarkan keringat sekaligus melatih stamina dalam tubuh. Namun kali ini berbeda. Ia diajak oleh salah seorang teman dalam suatu kegiatan sosial. Penasaran, si Fulan pun akhirnya ikut-ikutan. Kegiatan si teman ini kebetulan bergerak di bidang pendidikan, secara spesifik; mengajar anak yang kurang mampu dalam hal ekonomi di pinggir Jogja. Yang unik, para pengajar muda di kegiatan mingguan ini tidak mengajar anak-anak secara formal, dengan meja, kelas, atau semacamnya. Mereka hanya berbekal ilmu, buku, dan niat yang tulus. Fulan pun terkesima dengan pemandangan ini. 

Pertama kali masuk ke dalam apa yang disebut “gang senggol” oleh mas Koordinator, Fulan langsung berfikir, “wow, timpang banget ya. Di sebelah selatan sana keliatan sebuah Mall dengan segala gemerlapnya. Sedangkan disini, hanya ada rumah kecil berdempetan, dimana pemandangannya hanya Kali Gajahwong, sungai kotor yang hanya sedikit lebih besar dari Selokan Mataram”. Namun, Fulan juga tak kalah terkejut ketika kali pertama menjumpai anak-anak. Mereka sangat ceria, semangat, dan antusias melihat “kakak gurunya” datang. Ini menandakan bahwa mereka sebenarnya punya semangat belajar, hanya mungkin semangat tersebut tertutup oleh beban kehidupan yang lain.
         
iki mung ilustrasi dab, tapi yo cah2 ceriane koyo ngene :)
      Sembari memperhatikan si teman dan komunitasnya, Fulan juga mengamati tingkah polah para bocah ceria tersebut. Saat mereka diajak bercerita, sangat aktif. Malah kesannya mereka yang lebih suka bercerita daripada para gurunya. Fulan pun penasaran, ia pula mendekati dan mendengarkan cerita salah seorang anak. Said namanya. Ia duduk di kelas 6 SD, namun ceritanya sangat mencengangkan. Menurut kisahnya, di dekat dusun itu dahulu terdapat kasus pembunuhan. Ia kenal pembunuhnya, dan temannya pun bahkan ikut jadi saksi. Ia juga bercerita lebih lanjut tentang balapan liar dengan taruhan jutaan rupiah. Saat ditanya tentang cita-citanya, Said menjawab dengan mantap, “jadi joki drag (balapan drag—balapan motor/mobil yang lintasannya lurus, biasanya hanya sepanjang 100 - 400 Meter) ama pemain bola !”. Fulan pun memuji cita-citanya, namun sambil menambahkan bahwa balapan itu beresiko. Ia sebisa mungkin tidak ingin menceramahi bocah dengan kehidupan yang sudah keras macam ini. Model anak seperti ini yang difikirnya harus dijadikan sahabat, dirubah perlahan. Bukan malah jadi obyek ceramah.

Miris memang mendengar cerita semacam ini meluncur dari bibir seorang anak kelas 6 SD yang notabene tinggal di Kota Jogja, kota ber-stereotype ramah yang penuh dengan sopan santun. Namun inilah realita kota besar, ada putih, tentu saja ada hitam. Selama bertutur, Said pun kadang tertawa, menggoda temannya. Seolah tak terjadi apa-apa pada kehidupannya selama ini.

Dalam hati, Fulan memuji kegiatan si teman serta komunitasnya. Mereka telah bekerja keras untuk sedikit demi sedikit merubah dan menanamkan kebaikan kedalam diri anak-anak ini. Lingkupnya memang masih kecil, namun ini merupakan aksi nyata yang jarang orang mau melakukannya. Berbuat baik, meski sedikit, jauh lebih baik daripada beridealisme tinggi namun tanpa aksi nyata, tak berbuat apa-apa.

Sepulang dari dusun tersebut, Fulan makin yakin bahwa dalam tiap diri orang itu terdapat kebaikan. Tinggal orang tersebut mau atau tidak memelihara kebaikan tersebut. Ibarat dalam tubuh kita terdapat dua serigala, yang satu bernama “KEBAIKAN”, satu lagi bernama “KEBURUKAN”. Jika dua serigala ini bertempur, manakah yang akan menang ?

…ya serigala yang kita beri makan lah..



Sunday, September 8, 2013

Kegalauan Ekonomi Menghadapi Si Globalisasi


Globalisasi? kata yang satu ini nampaknya telah amat akrab di telinga kita. Saking akrabnya, kita mungkin mengira globalisasi hanya sebuah fenomena biasa yang sudah sepatutnya terjadi di dunia modern ini. Memang tidak salah juga, mengingat kemajuan teknologi dan informasi berkembang dengan pesat.
Seiring waktu, globalisasi banyak menunjukkan manfaat bagi masyarakat dunia dalam hal efisiensi waktu dan kemudahan berinteraksi antar kontinen. Ekspansi perdagangan, pertumbuhan pasar, arus informasi dan kemudahan akses ke seluruh belahan dunia menjadi primadona dari produk positif globalisasi itu sendiri. Meski demikian, globalisasi tidak melulu membawa dampak positif. Muncul kegalauan bahwa orang-orang yang terpengaruh globalisasi ini kualitas hidup dan perekonomiannya akan cenderung terguncang.
Sebagai penggambaran yang mudah – kita saat ini hidup di dalam dunia global yang praktis, semuanya dituntut untuk serba cepat dan terbaik. Bila seseorang atau suatu negara lebih lambat daripada yang lain, maka ia akan tertinggal bahkan tertindas. Dengan kata lain, semua dituntut untuk berkompetisi antara satu sama lain.
Lebih lanjut, negara berkembang dan negara maju memang sama-sama terdaftar dalam WTO (World Trade Organization). Namun, tetap saja keduanya tidak akan dapat berdampingan dengan seimbang. Globalisasi dan WTO hanya dijadikan suatu media bagi negara maju untuk “menjajah” negara berkembang secara ekonomi, memanfaatkan tenaga kerja murah, hasil bumi melimpah, dll. Akibatnya, para rakyat negara berkembang pun mau tidak mau harus bekerja keras untuk dapat mengimbangi keperkasaan negara maju. Inilah yang dinamakan kompetisi.
Ketika rakyat negara berkembang yang notabene makin maju, pihak negara adidaya pun tidak mau kalah. Padahal bila ditilik secara mendasar, para pihak yang bersaingan ini hanyalah manusia biasa yang tetap perlu memenuhi kebutuhan sosial dan biologisnya. Orang-orang ini tidak sadar bahwa dengan tekanan pekerjaan dari negara dan persaingan yang sedemikian rupa dapat menyebabkan seseorang lupa akan hakikat hidup manusia – yakni bersosialisasi, baik dengan manusia maupun lingkungan alam sekitarnya. Tak heran, fenomena stress dan depresi pun menjadi mudah ditemui di masa kini.
Di sisi lain, kemajuan teknologi seperti cepatnya informasi juga menambah hilangnya kualitas hidup dan identitas manusia. Mungkin kemajuan teknologi memang mendukung dalam hal bisnis dan media. Namun kemajuan teknologi ini juga memisahkan hubungan antar manusia itu sendiri. Istilah yang dapat digunakan adalah “mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”. Contohnya dalam suatu makan malam keluarga, tradisi telah berubah – dulu satu sama lain saling bercerita, kini satu sama lain hanya saling diam sambil mengetik sesuatu di hand phone masing-masing.  
Untuk soal identitas dapat dilihat pada bangsa Indonesia sebagai contohnya. Di Bantul, Jogjakarta, terdapat desa bernama Kasongan yang mata pencaharian warganya berasal dari kerajinan gerabah yang mereka buat. Kerajinan tersebut berpangsa pasar utama di mancanegara, karena memang banyak warga Eropa yang menyukai gerabah Kasongan karena nilai tradisionalnya. Dari contoh singkat ini, dapat dilihat bahwa nilai tradisional Indonesia memang berhasil mengglobal. Namun fenomena seperti ini masih sangat jarang terjadi di Indonesia. Coba hitung saja berapa nilai tradisional Indonesia yang berhasil mengglobal dan hitung nilai globalisasi yang berhasil menyatu dalam tradisi lokal, kemudian bandingkan. Ironisnya, nilai global yang masuk ke tradisi lokal-lah yang unggul lalu berhasil menggeser nilai budaya bangsa Indonesia.
Karena dunia saat ini telah terlanjur larut dalam fenomena globalisasi, maka cara yang digunakan suatu negara untuk berubah juga tidaklah mudah, namun tetap dapat dilakukan. Perlu diingat bahwa melepaskan diri dari “cengkeraman” globalisasi bukan berarti melepas semua keterkaitan suatu negara dari perkembangan global, karena hal ini terlalu radikal, bahkan demi kepentingan naiknya kualitas hidup manusia yang telah disebutkan sebelumnya. Namun paling tidak, suatu negara seperti Indonesia bisa melonggarkan diri dari jeratan ekspansi ekonomi negara-negara maju.  
Salah satu cara yang dapat dipakai ialah dengan memilih sosok pemimpin nasionalis yang berani merubah sistem. Dalam hal ini, si pemimpin harus mampu berperan mengakomodasi kepentingan dan identitas nasional semaksimal mungkin. Semua produk domestik didorong untuk dapat maju bersaing dan SDM dikembangkan lebih jauh – bila perlu disekolahkan ke luar negeri. Meski kebijakan semacam ini menuai kontroversi karena akan mengorbankan alokasi dana untuk hal lain ataupun mungkin juga akan dikecam negara-negara maju, namun baiknya tetap harus dilakukan. Karena sebuah perubahan ke arah negara yang mandiri membutuhkan suatu pengorbanan.
Dengan kata lain, kegalauan ekonomi kita dalam menghadapi globalisasi ini tidak bisa dengan cara menolaknya mentah-mentah, melainkan bersikap bijak demi menyerap efek positifnya dan memangkas efek negatif dari ekonomi liberal maupun pasar bebasnya.
*telah diedit dan dimuat oleh http://unsa27.net/ sebagai artikel pilihan Juni 2013

Thursday, September 5, 2013

Rotasi Hati

Sekarang bilang A
Esok bilang B
Lusa bilang A

Ada pula
yang sekarang bilang A
Esok bilang B
Lusa bilang C
Esoknya malah bilang D

Meski ada juga
Yang sekarang bilang A
Esok bilang B
Dan hingga akhir masih bilang B

Hari ini mengaku suci
Esok bisa saja korupsi

Hari ini bajingan
Esok bisa saja jadi orang beriman

Hati ini mudah sekali dibolak-balik kawan
Karena manusia sesungguhnya diciptakan dalam keadaan lemah

Maka dari itu
Jangan putus asa
Minta kekuatan dan ketetapan kepada Yang Maha Kuat


Dosa ( itu penting )

Hari sudah beranjak gelap, sementara si Fulan masih saja meringsut di pojokan kamar kosnya. Kelaparan. Akhir bulan ini menyiksa sekali baginya. Kondisi usaha sang ayah yang bulan lalu baru saja gulung tikar secara langsung mempengaruhi Fulan. Hidupnya di perantauan kini pas-pasan.

       Masih tak bergerak di pojokan, ia diam, sambil sesekali memegangi perutnya. Lapar dan tak punya uang untuk membeli makanan merupakan kombinasi yang sangat dahsyat. Fulan sadar, bahwa ia tak mungkin memaksa ayahnya untuk tetap mengirimkannya uang semata untuk kesejahteraan perutnya seorang. “ayah dan ibuku pasti saat ini lebih menderita daripada aku”, pikirnya. Namun si perut melilit ternyata tak mau bertoleransi, Fulan akhirnya keluar kos untuk menuju warung makan. Sengaja dicarinya warung makan yang ramai pembeli. Karena dari awal Fulan memang berniat untuk tak membayar makanannya, dan kemudian langsung menghilang di keramaian begitu ia kenyang. Dua puluh menit kemudian Fulan pun sampai di kos. Perutnya telah terisi penuh, sedangkan pengeluarannya nol rupiah. Ia lega.

        Selepas sholat Isya, Fulan pun terdiam. Ada yang aneh dalam batinnya. Perasaan bersalah muncul ! Sebenarnya sore ini ia masih bisa ngutang makan ke teman kosnya, maupun ke teman lain. Namun hal tersebut tak dilakuannya lantaran sebuah “gengsi”. Fulan sejatinya adalah anak yang baik, tapi ia berharga diri tinggi. Jaim dan gengsi melekat di tabiatnya.

        Rasa bersalah akibat dosa yang sengaja dilakukan Fulan terus membuncah dalam hatinya selama beberapa lama. Ia pun sadar, bahwa mencuri adalah perbuatan yang haram dilakukan, apapun kondisinya. Dengan mencuri, ia secara tidak langsung telah memutus sebagian rezeki warung tersebut. Masih banyak cara yang dapat ia lakukan untuk menghindari perbuatan tersebut. Di kemudian hari, Fulan pun tak ragu lagi untuk berutang, bahkan bekerja serabutan, semua dilakukan agar kesalahannya dulu tak terulang kembali.

        Dalam perumpamaan diatas, dapat dilihat bahwa karakter Fulan mampu berubah karena sebuah rasa bersalah. Sebuah rasa yang didapatnya dari melakukan dosa. Sebagai manusia biasa, tak mungkin kita tidak melakukan dosa dan kesalahan. Pasti pernah, atau bahkan sering ? mari jawab masing-masing. Apapun macamnya, yang namanya dosa itu salah. Namun hal yang salah bukan berarti tidak penting, lantas diabaikan.
Dosa itu penting menurut saya. Karena dengan melakukan kesalahan, kita jadi tahu mana yang benar. Karena dengan melakukan dosa, kita jadi tahu apa arti penting sebuah pahala. Dan karena dengan berada di bawah, kita juga menjadi sadar, bahwa kita harus naik ke atas. Merasakan manisnya perjuangan untuk kembali ke jalan yang benar.

        Akan tetapi, hal ini tidak lantas membuat kita harus beramai-ramai melakukan dosa terlebih dahulu, dengan tujuan supaya dapat menjadi lebih baik nantinya. Tak perlulah. Karena dengan kita hidup sebaik mungkin aja, pasti masih melakukan dosa kok, apalagi yang pengen berbondong-bondong bikin dosa duluan. Bukannya jadi baik, malah makin terjerumus malahan. Cukup dengan bekal “membuka mata” atau menyadari segala hal di sekitar kita. Sehingga fenomena apapun yang nampak, kita bisa memaknainya walau sedikit. Dengan “membuka mata”, kita akan dapat menyadari segala hal yang kita lakukan, termasuk kesalahan. Nah, kalo sudah sadar, tinggal pilih mau lanjut salah terus atau mau berubah jadi lebih baik.

NB: Cangkeman pancen gampang, tumindak e sing angel. Ngomong emang mudah, melakukannya yang sulit. Jadi, mari saling mengingatkan dan berusaha sebaik mungkin. 

buka mata (hati)