Tentang Ane

Wednesday, September 3, 2014

Catatan KKN Eps.1; Prolog

“WHOAAA… akhirnya KKN juga !”, pekik ane dalam hati. Senang rasanya mengetahui bahwa liburan telah datang. Sejenak lari dari segala macam perkuliahan, kepenatan, dan tanggung jawab. Selama liburan ini, ane penasaran pula ama yang namanya Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebuah mata kuliah khusus, 3 SKS tapi mbayarnya 1 juta. Hahaha. Bikin penasaran kan ?

Apa sih KKN ?
        KKN-PPM (Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat) merupakan sebuah program kuliah yang berangkat dari tanggung jawab dalam hal pengabdian masyarakat oleh UGM. KKN biasanya dilakukan pada semester 6 keatas, dimana mahasiswa telah memenuhi syarat jumlah SKS yang ditentukan. Namun ada juga fakultas yang mengatur jadwal KKN mahasiswanya lebih lama daripada lainnya. Kemungkinan karena mahasiswa fakultas tersebut diwajibkan untuk ikut Kerja Praktik (KP) atau Koas terlebih dahulu.

    Tujuan KKN sebenarnya dapat dikatakan dalam satu kata, “Mengabdi”. Mengabdi untuk masyarakat. Nah hal ini (idealnya) dilakukan dengan metode penggabungan ilmu mahasiswa 1 tim KKN (interdisipliner). Maksudnya, dalam memandang suatu permasalahan yang ada di masyarakat, kita tak cukup hanya mengandalkan satu pandangan ilmu saja. Misal; tema di KKN ane, JTG 53, adalah “Peningkatan blablabla dengan blablabla Sapi Perah” (mbuh lali komplet e, hahaha). Penekanan tema disini terdapat pada kata “peningkatan” dan “sapi perah”. Nah berarti kan kita musti meningkatkan kekuatan masyarakat, spesifiknya dengan sapi perah. Tentu dalam KKN ini, keilmuan yang paling berperan ialah Kedokteran Hewan dan Peternakan.

Merapi, pemandangan sehari-hari
       
         Namun, esensi KKN tak akan terlihat bila 1 tim isinya mahasiswa KH ama Peternakan semua. Selain mereka, juga terdapat keilmuan lain seperti Ilmu Sosial, Hukum, Biologi, Pangan, Teknik, dsb. Peran ilmu-ilmu ini yakni untuk memandang permasalahan sapi perah dari sisi lain. Dari sisi sosial misalnya muncul pertanyaan “Apa dampak dari kepemilikan sapi perah bagi pendapatan peternak ? dst.      

Eniwei, selama liburan Juli-Agustus ini ane bakal KKN di kawasan Selo, Boyolali. Salah satu daerah kesukaan ane. Kenapa ? karena deket gunung lah, pemandangannya indah. Hahaha. Sederhana yah.


Kali ini ane juga bakal KKN bareng orang-orang dari berbagai tipe dan spesies yang beraneka ragam. Hahaha. Asik kayaknya :D

belum full team sih. soalnya ane belum punya fotonya. Haha

*Bersambung..



Tuesday, July 8, 2014

9 Juli 2014



Potensi pemilih dalam pilpres sekarang jauh lebih besar ketimbang tahun 2009 lalu. Menurut riset yang dilakukan oleh Poltracking Institute, potensi pemilih sekarang mencapai 94.1%. sedang pada 2009 hanya sekitar 72%. 

hingar bingar Piala Dunia ketutupan ama PilPres coy

Nampaknya semua ini tidak lepas dari peranan 3 hal:

1.  Faktor capres yang maju kedalam kompetisi pemilihan presiden tahun ini.
Dalam pemilu 2014 ini tercatat ada dua sosok hebat yang mengajukan dan diajukan sebagai calon presiden RI. 

Pertama adalah Prabowo, mantan Danjen Kopassus. Beliau adalah sosok prajurit yang terkesan tegas dan lugas dalam bertindak maupun menyampaikan suatu pendapat/pandangan. Fokus beliau terdapat pada cita-cita pembangunan Indonesia yang kuat dan mandiri. 

Sosok kedua adalah Jokowi, mantan walikota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta. Jokowi merupakan sosok yang memberikan kesan sederhana, jujur, dan merakyat. Fokus beliau terdapat pada pembangunan ekonomi kerakyatan untuk kesejahteraan yang merata di Indonesia.

Dalam beberapa artikel disebutkan bahwa alasan keduanya popular, tidak lain karena Prabowo dan Jokowi merupakan antitesis dari sosok SBY. Prabowo tegas dan lugas; beda dengan SBY yang terkesan banyak berfikir, kurang tegas, dan bertindak dengan amat hati2. (misal: dahulu Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina. Namun saat Bush datang, disambut dengan meriah, RI bersahabat lagi dengan AS. Saat komunikasi SBY dibajak oleh Australia pula, beliau masih terkesan “woles”).

Jokowi sederhana dan merakyat; beda dengan SBY yang terkesan misterius, tak terjangkau, serta ber ”mental” pejabat –bermewah-mewahan (misal: menyambut Bush dengan gegap gempita, menggunakan mobil dan pengawalan untuk ke cikeas-istana negara, sehingga menyebabkan kemacetan). 

2.  Faktor media social.
Dalam pilpres kali ini, peran media social tak dapat diremehkan. Pasalnya, banyak kampanye dari kedua pasangan yang berbasis media social. Entah itu, kampanye positif, negative, bahkan black campaign. Para timses kedua calon dalam hal ini nampaknya mengerti betul tentang bagaimana cara memasukkan ilmu marketing yang mereka miliki untuk masuk dan mempromosikan capres masing-masing kedalam dunia medsos yang kini sedang nge-trend.
Dengan demikian, ratusan, mungkin ribuan swing voters maupun mereka yang (tadinya berniat) golput masih berkemungkinan besar untuk dapat dipengaruhi.

Namun khusus untuk black campaign, ane masih bingung ini sebenarnya tindakan siapa.
Apakah tindakan salah satu timses untuk menjelekkan salah satu capres ? kalo iya, ga professional banget dong. Pragmatis banget kesannya.

Apakah tindakan salah satu pendukung capres yang fanatik ? bisa jadi. Pasalnya, 2 tokoh yang kini sedang berkompetisi memang jauh berbeda satu sama lain bila dibandingkan. Mereka tidak berasal dari bidang yang sama. Hal ini makin membuka peluang bagi seorang fanatik untuk menjelekkan satu factor kekurangan dari pihak capres lawan. Karena bagi mereka, capres idolanya adalah sosok yang (hampir) selalu benar. Dan kalo capres mereka diejek ? toh tinggal ejek balik dengan menggunakan kekurangan dari capres lawan yang tidak dimiliki capres si fanatik.

Perumpamaannya ? Hal ini seperti membandingkan apel dengan jeruk. Sama-sama enak dan bergizi, namun isi, bentuk, rasa, dan sifatnya berbeda. Percuma untuk dibandingkan. Lha wong dari awal aja dua entitas ini sudah sangat berbeda. Tinggal kita pilih yang mana ? tentu dengan segala konsekuensinya.
Satu lagi, bisa jadi black campaign dilakukan oleh pihak ketiga yang ingin memecah belah bangsa. Jeeeeng jeeengg. Konspirasi coy. Mbuh lah nek iki. Haha.

3.  Faktor debat capres yang telah rutin dilakukan
Dalam pemilu kali ini, seperti yang telah dilakukan dalam pemilu 2009. Diadakan debat capres, namun dengan skala yang lebih intens/rutin. Topic yang dibicarakan dalam debat ini beragam, mulai dari ekonomi, politik luar negeri, ketahanan nasional, sumberdaya, dll. Debat capres ini berlangsung selama kurang lebih 90 menit dan disiarkan di TV nasional. Hal ini merupakan progress yang amat keren dari KPU. Mereka membuat kita, selaku warga negara biasa yang mungkin kurang tahu banyak tentang capres kita, menjadi tahu lebih banyak. Sehingga hal tersebut dapat menjadi pertimbangan memilih masing-masing dari kita. Namun ada juga yang berpendapat bahwa debat yang diadakan KPU ini masih banyak kekurangan disana-sini. Salah satunya, substansi debat yang harusnya membicarakan visi dan misi kedepan masih kurang terlihat.

Akan tetapi debat semacam ini sebenarnya adalah pendidikan politik bagi masyarakat luas. Begitu pula dengan berbagai “promo” di media social. Ane percaya hal ini nantinya berdampak pada antusiasme masyarakat dalam menyambut politik ke depannya. Kita akan menjadi lebih kritis, lebih tahu siapa yang akan kita pilih, lebih tahu siapa yang akan kita percayakan untuk mengurus nasib kita selama lima tahun kedepan. Dan akhirnya tahu, bahwa politik merupakan pedang bermata dua. Meski disatu sisi ia mempunyai kekuatan untuk melukai siapapun. Namun disisi lain ia mempunyai kekuatan untuk membela hal yang benar, memberikan kebaikan dan bagi kita dan masyarakat luas.

Maka dari itu, mari menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Dimulai dengan memilih presiden besok pagi. Dilanjutkan dengan berkarya bagi kawan, lingkungan, hingga akhirnya bagi bangsa kita. 

-katakan “TIDAK” pada Golput !-
satu menang, satu pasti kalah. jangan tanya "sudah siapkah mereka menghadapi kekalahan". tapi tanya pada diri kita sendiri, "sudah siapkah kita menerima mereka yang menang ?" 


Sunday, July 6, 2014

Sepintas Buka Bersama

            Akhir2 ini banyak acara buka bersama (buber). Ya iyalah, kan puasa, hehehe. Mulai dari buber panitia PERTI, Perus Balairung, HI 2011, dan MP UGM. Buber sendiri menurut ane merupakan suatu tradisi yang baik. Karena pada umumnya, tujuan acara ini adalah untuk menjaga tali silaturrahim antar individu dalam suatu komunitas. Hal tersebut kemudian diwujudkan dalam acara bersama yang bertemakan kegembiraan (*baca: makan bareng2).

Dan entah kita menyadarinya maupun tidak, menurut ane terdapat dua faktor dasar yang menyebabkan atmosfir sebuah buber diisi oleh kegembiraan. Pertama, karena salah satu acaranya sendiri yang “wajib” diisi oleh ritual makan bersama untuk berbuka puasa. “Makan” adalah salah satu kegiatan wajib manusia, yang identik dengan kegembiraan. Kita gembira bukan saat kita makan ? Saat kita berhasil merasakan nikmatnya makanan yang kita kunyah, kemudian telan ? Saat kita tidak lagi merasa lapar ? Sedikit banyak kita pasti gembira (meski kadang tidak kita disadari). Apalagi saat ritual “makan” ini diadakan di bulan suci Ramadhan, di hari puasa. Selama seharian berkegiatan sembari menahan lapar dan dahaga. Kita men-simulasikan diri kita sendiri untuk menjalani keseharian mereka yang miskin dan hidup di jalan dalam menahan lapar. Pada sore harinya, kita diperbolehkan berbuka. Dan setelah “penderitaan” sehari yang kita hadapi, kita berbuka puasa, merasakan nikmat makan bersama teman-teman dalam acara buber. Bukankah ini yang dinamakan “kegembiraan” ?

masak dewe, pangan dewe, rame-rameee

Kedua, karena adanya teman-teman dan saudara disamping kita saat berbuka. Kita memang dapat berbuka sendirian, dan tetap dapat merasakan nikmat makan. Namun bila hal ini dilakukan secara beramai-ramai dalam acara semacam buber, hal tersebut akan berbeda. Kegembiraan dapat lebih terasa. Apalagi bila buber diadakan dalam rangka reuni SMA, SMP, SD, atau apapun dengan label “bertemu kawan lama”. Saat bertemu dan melihat wajah mereka saja mungkin masing-masing dari kita sudah gembira, apalagi saat berbuka dan ngobrol bersama. Membicarakan “kejayaan” masa lalu yang mungkin berisi kenangan mengesankan, hal luar biasa, tindakan bodoh, dll. Dijamin, buber dalam rangka reuni pasti ga bakal selese dalam durasi 2 jam. Bahkan bisa semalaman mungkin. Hahaha.

Karena banyak hal positif tersebut, buber nampaknya akan tetap menjadi acara favorit banyak kalangan dalam menjalani ibadah puasa. Hehe. Asal jangan lupa saja bayar iuran makan dan shalat tarawih.

Monday, June 9, 2014

Revolusioner

Mereka yang begitu mendamba revolusi, apakah sudah saking jenuhnya memandang keadaan dan sistem yg tidak sesuai dengan keinginan ideal mereka ?
Apakah karena sudah saking kaburnya melihat jalan keluar yang tak kunjung tergambar ?
Hingga kemudian beranggapan bahwa mendobrak keadaan adalah jalan satu2nya dalam mengatasi permasalahan bersama. Sembari berharap ada 1 sosok yang berani memimpin dan melakukan 'dobrakan tersebut.

Namun pertanyaannya:

  • Siapkah kita dalam menerima perubahan yang (bisa jadi, dan kemungkinan akan jadi) radikal ? 
  • Siapkah kalangan2 tertentu menerimanya ? 
  • Ke arah manakah kita melangkah setelah perubahan dilaksanakan ? 
  • Sudahkah kita mengecek pihak2 mana yang akan diuntungkan dengan perubahan tersebut ? 
  • Dan terakhir, sudah siapkah semua kalangan (bila) dipimpin oleh seorang revolusioner ? 

Padahal, keinginan akan perubahan dalam jangka waktu yang cepat tak hanya bisa diraih dengan "dobrakan". Bisa jadi, pembenahan hanya perlu dilakukan dan difokuskan di beberapa sektor yang amat penting bagi publik. Yang kemudian setelah sektor tsb diperbaiki, pembenahan di bidang lain bisa jadi lebih mulus. Asumtif ya ? Emang. Namanya aja gambaran kedepan.

Namun yang perlu ditekankan disini, yakni semoga kita berhati-hati dengan pemikiran revolusioner. Yang menganggap (hampir) semua hal perlu dirubah, karena memang sedang berada dalam keadaan genting. Padahal bisa jadi keadaan sebenarnya tidak lebih buruk dari yang kita bayangkan. Bisa saja keadaan kita sekarang sedang menuju ke arah yang positif, dan hanya perlu ditambah sentuhan mereka yang humanis dan dapat menyebarkan optimisme ke banyak kalangan.
pilih kanan ? atau kiri ? 

Monday, June 2, 2014

Pencak Malioboro Festival #3

        Hari ini adalah hari ketiga, sekaligus hari terakhir dari acara Pencak Malioboro Festival (PMF). Sejak dimulai pada Jum’at (30/5) lalu, PMF mendapat sambutan yang meriah dari para penonton dan peserta (kata temen sih, hehe). Gelaran pencak silat ini merupakan acara tahunan yang diadakan untuk ketiga kalinya, sejak pertama kali diselenggarakan pada 2012. PMF sendiri merupakan hasil inisiatif dari komunitas Pencak Silat Yogyakarta yang bernama Paseduluran Angkringan Silat (PAS). Tujuan dari acara ini tidak lain adalah untuk mengenalkan “Pencak Silat”, beladiri asli nusantara kita kepada khalayak ramai Indonesia pada umumnya, dan Yogyakarta khususnya.   


      PMF tahun ini tergolong amat ramai dan antusias bila dilihat dari rangkaian acaranya yang makin berkembang serta jumlah peserta yang makin bertambah sejak tahun lalu. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini rangkaian acara dibuat menjadi 3 hari. Dengan 2 hari pertama, Jum’at dan Sabtu, diisi oleh event Lomba Komposisi Gerak Pencak. Peserta yang mengikuti lomba kali ini berasal dari bermacam perguruan dari berbagai daerah. Mereka beradu keindahan dan kemantapan gerak yang dilakukan bersama sembari mengenakan kostum yang beraneka ragam. (kata temen ane lagi, ane ga nonton soalnya). Kemudian di hari terakhir, diadakanlah acara rutin PMF, yakni Pawai Pencak Silat di sepanjang ruas Jalan Malioboro. Dalam pawai ini, tercatat sekitar 5.500 peserta yang mengikuti. Mereka berasal dari 61 perguruan yang tersebar baik di Indonesia, maupun Mancanegara. Kereenn kan ?

        Dan sekedar bercerita, ane siang tadi juga mengikuti rangkaian acara pawai bersama kawan-kawan dari Merpati Putih. Kira-kira sekitar 100 orang pesilat MP, baik dari Sleman maupun Kota DIY, ikut berpartisipasi dalam event kali ini. Berikut kilasan singkatnya;
Sebelum dimulai start dari parkiran Abubakar Ali, kami rombongan MP mengantri terlebih dahulu dibawah teriknya sinar matahari Jogja pukul 13.00. Hoot meen. Ditambah lagi satu fakta terbaru yang kami temukan, yakni hanya perguruan kami yang tidak mengenakan alas kaki untuk menghadapi aspal panas siang ini. Tapi tak apa, toh inilah guna dari pembajaan yang pernah kami jalani selama ini. Yah, kalo udah nginget2 pembajaan, aspal panas pun jadi kerasa anget2 (sugesti ini, asline sih panas tenan yoan, hahaha). 
Lorong pesilat MP

       Tak terasa jam telah menunjukkan sekitar pukul 14.00. Persis sebelum kami memulai start, Mas Nardjo mengungkapkan belasungkawa MP di depan para peserta, serta meminta semua untuk memanjatkan doa sejenak, atas meninggalnya Guru Besar kami, Mas Poeng. Tak lama, start pun dimulai. Masing-masing pesilat yang menyusuri Malioboro seperti tak kenal lelah dalam menampilkan atraksi perguruan mereka. Termasuk MP. Kali ini kami menampilkan bermacam atraksi seperti; aplikasi gerak tangkap-kunci, rangkaian gerak praktis, aplikasi getaran, serta atraksi pematahan benda keras. Pertunjukan berlangsung meriah. Diindikasikan dengan terdengarnya riuh tepuk tangan, serta bersahutannya suara “klik” khas kamera digital, yang diarahkan ke para peserta pawai. Namun sayangnya, menjelang sore pukul 16.00, awan mulai mendung, yang kemudian berujung hujan deras. Rombongan pesilat pun serta merta bubar untuk berteduh, maupun pulang ke tempat transit masing-masing. 
CIAATT !
        Menurut ane pribadi, acara seperti inilah yang sangat potensial untuk menaikkan derajat Pencak Silat di mata masyarakat. Agar kedepan, beladiri sekaligus budaya Indonesia ini dapat menjadi populer sekali lagi. Juga supaya Pencak Silat dipandang sebagai kebutuhan masyarakat, dan bukan sekedar hobi yang digeluti oleh sebagian orang saja. Bahkan bila sekarang, masyarakat masih kurang berminat dengan budaya ini. Harapannya, acara marketing dan branding Pencak Silat seperti PMF kedepan akan makin marak di berbagai daerah di Indonesia. Tentu saja dengan support dari berbagai pihak. Kita pastinya akan bahagia; semisal 20-40 tahun mendatang, kita mendapati banyak dari anak kita yang tiap sore hari jarang berada di rumah. Yang tiap kita tanya, “kemana Le kalo sore ?”, dijawab “Mau latihan silat, pak !” Hehehe. *Berandai-andai.

foto selengkapnya dapat dilihat di album FB Merpati Putih Kolat UGM: https://www.facebook.com/merpatiputih.kolatugm/media_set?set=a.749297398424921.100000340036197&type=3
dan
https://www.facebook.com/merpatiputih.kolatugm/media_set?set=a.748228845198443&type=1

Saturday, May 31, 2014

Mendikte Tuhan

Pernah ga suatu ketika, kamu menginginkan sesuatu. Pasti pernah kan ? Bohong banget dah kalo jawab ga pernah. Haha.

        Keinginanmu mungkin bisa berupa apapun. Mulai dari barang bagus, makanan enak, posisi strategis, IP 4, cita-cita, hingga idealisme. Ya, sah-sah aja sih untuk menginginkan itu semua. Ane pun demikian, punya beberapa keinginan. Mulai dari yang mini, hingga yang jumbo dan ekstra jumbo. Ck, udah kayak ukuran gentong aja ya.

       Tapi apa yang terjadi ketika keinginan kita berbanding terbalik dengan kenyataan ? padahal usaha udah dilaksanakan pula. Bahkan dalam kasus tertentu, kita ga menyangka kalo kehidupan kita bisa dalam sekejap berbalik 180 derajat. Plakk, kayak ditampar telak di muka. Harapan berbanding terbalik dengan kenyataan bukan ?

Apa yang terjadi berikutnya bisa dipilah menjadi dua kemungkinan;
  1. Sabar, tetap berpikir jernih sambil mencari solusi bagi masalah yang sedang dihadapi. Bisa jadi karena kita bingung, kemudian cari temen buat tempat curhat deh. Itung2 dapet rasa lega karena udah plong cerita ama bisa dapet varian solusi yang berbeda dari sudut pandang kita.
  2. Galau, njuk bingung. Terus mencoba mengulang-ngulang apa yang terjadi di dalam kepala. Mencari tahu APA atau SIAPA yang musti disalahkan. Dan apa kesalahan mereka. Hingga kemudian virtualisasi dalam otak tersebut masuk dan dirasa menjadi kenyataan bagi kita. Sejurus berikutnya, kita telah mengetahui “apa/siapa” yang musti disalahkan. Bisa teman, lawan, maupun keadaan. Daan kalo udah sampe level menyalahkan “keadaan” ini, berarti udah gawat. Karena secara ga langsung, kita udah menyalahkan Dia yang membuat keadaan jadi demikian. Kita pengen A, nah malah dikasih B. Giliran kita pengen B, jebret ! malah dikasi R. Kita merasa lebih tau apa yang terbaik untuk kita, daripada Dia yang menciptakan kita. Padahal kita ga tau apakah hal tersebut yang malah cocok untuk kita.


“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Ditambah lagi, dulu ane pernah baca kutipan Cak Nun, tapi lupa. Hehe. Intinya beliau menyampaikan bahwa jika Tuhan menyerahkan semua urusan kepada umat manusia; agar manusia bisa bebas berkehendak semau mereka. Maka cukup butuh waktu esok lusa untuk menunggu kehancuran kita semua.


Jadi, intinya. Ambil opsi 1 aja kalo lagi galau. Kalo udah terlanjur masuk ke opsi 2, segera hubungi temenmu untuk curhat. Hehe. 
*asli curhat ki

Monday, May 5, 2014

(Bukan Ulasan) Mata Najwa on Campus UGM

         Dua minggu lalu, tepatnya pada hari Jumat (25/4), Mata Najwa on Campus (MoC) berkunjung ke UGM untuk mengadakan talkshow bersama tokoh2 ternama. Dengan mengusung tema “Dari Jogja untuk Bangsa”, acara ini sukses menyedot perhatian ribuan orang di Kota Gudeg. Episode Mata Najwa kali ini mengundang tamu-tamu spesial, antara lain; Mahfud MD, Chairul Tanjung, Sultan HB X, Anies Baswedan, serta Ridwan Kamil. Menarik menurut ane melihat mereka duduk dalam satu forum dan berbincang-bincang dengan Mbak Najwa yang pinter itu. Hehe.

           Kelima tokoh tersebut merupakan sosok dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Mahfud MD merupakan sosok tegas yang berkiprah di bidang hukum. Prestasi beliau yang paling mencolok adalah kiprahnya sebagai ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008-2013. Berikutnya adalah sosok pengusaha kaya raya pemilik CT Corp, Chairul Tanjung “Si Anak Singkong”. Hadir pula pemimpin rakyat Jogja disini, yakni Sultan HB X. Sultan merupakan gubernur, sekaligus raja di Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Beliau termasuk pemimpin yang memegang teguh falsafah Jawa ditengah hiruk pikuknya globalisasi kini. Untuk itu, ane salut kepada beliau. Kemudian, Sosok Anies Baswedan muncul pula dalam talkshow kali ini. kereen. Mas Anies ini ane rasa merupakan idola para mahasiswa masa kini. Karena tak hanya berposisi sebagai rektor termuda di Indonesia, Anies Baswedan juga merupakan seorang yang amat menghargai intelektualitas. Baginya, pendidikan merupakan prioritas nomor satu dalam metodenya memperbaiki bangsa. Jujur ane sangat menyukai kiprah beliau. Terakhir adalah sosok Ridwan Kamil, atau yang kerap disapa Kang Emil. Walikota Bandung ini merupakan rising star politikus muda Indonesia. Ia telah berhasil menyulap Bandung menjadi kota yang lebih baik, salah satunya adalah dengan Taman Jomblonya. Wkwk. Lucu soalnya nama taman ini.
baguss
         Meski berbeda-beda dalam hal latar belakang, namun mereka sama dalam hal tujuan, yakni memajukan bangsa. Dengan cara masing-masing tentunya. Terkecuali salah seorang pihak yang sering menampilkan joget2 ga jelas setiap hari di TV, ane ragu apa metode itu termasuk dalam proyek pembangunan bangsanya. Hehehe. Tapi ya, tak adil namanya bila men-judge seseorang hanya karena keganjilan kecil yang diciptakannya. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Dan bagi ane, kelebihan kelima sosok inilah yang mungkin membuat mereka diundang dalam talkshow ini. Mereka mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi orang lain dalam hal bersikap positif. Dengan berpikir dan bersikap positif, otomatis kita optimis. Dengan optimis, maka seseorang dapat lebih melihat tujuan dibalik segala halangan yang menghadang.

If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.
--John Quincy Adams


Dengan kian bermunculannya sosok-sosok pemimpin seperti yang tersebut diatas. Ditambah sosok seperti Dahlan Iskan, Jokowi, atau Bu Risma. Disisi lain, dengan mulai tenggelamnya popularitas tokoh-tokoh besar alumni rezim kemarin. Ane yakin ke depan Indonesia akan mulai menampakkan sinarnya kembali. Bangsa ini akan mampu berdiri diatas kedua kakinya sendiri. Mulai mandiri, dan tak banyak kompromi. Meski buanyak sekali PR yang musti dijalankan untuk mencapai hal ini, seperti pengentasan korupsi, pengubahan mindset negatif masyarakat ke pemerintah, perubahan media kearah yang lebih netral dan edukatif, penegasan kembali posisi Indonesia di mata dunia dengan mengambil sisi yang jelas dalam kebijakan internasionalnya, dll. Namun ane yakin, dengan munculnya sosok pemimpin yang dapat menumbuhkan rasa optimisme di hati masyarakat. Bangsa kita akan dapat menjalani semuanya.
kalo ini idola ane sejak dulu di Solo. sederhana, visioner, talk less do more !